Selasa, 22 Mei 2012

Menumpas Pemberontakan PRRI



A.Kejadian Awal

                Masa demokrasi Liberal tahun 1950-1959 menimbulkan ketidakstabilan dalam bidang politik. Pemilihan umum yang dilaksanakan dalam tahun 1955 tidak berhasil menghilangkan pertentangan-pertentangan politik. Bahkan dibeberapa daerah muncul suara-suara menuntut otonomi yang luas karena dirasakan tidak adanya pemerataan dalam bidang pembangunan.
                Dalam keadaan demikian, bekas divisi banteng mengadakan reuni di Padang pada tanggal 20-24 November 1956. Hasil reuni tersebut terbentuklah dewan banteng yang dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein.

B. Peristiwa

                Dengan terbentuknya dewan banteng yang bertendensi politik, pada tahap awal Kasad melarang para perwira melakukan kegiatan politik. Tetapi larangan itu disambut oleh ketua dewan banteng dengan mengambil alih pemerintahan propinsi Sumatera Tengah, dari gubernur Ruslam Mulyoharjo. Alasannya karena gubernur tidak mampu melaksanakan pembangunan.
                Kegiatan di Sumatera Tengah diikuti pula oleh Sumatera Timur, yaitu ketua dewan Gajah, Kolonel M.Simbolon mengambil alih semua kekuasaan dalam wilayah T.T.II/Bukit Barisan.
Kemudian di Sumatera Selatan terjadi kegiatan yang sama. Setelah diadakan konferensi dinas pemerintah Sumatera Selatan lahirlah dewan Garuda. Panglima T.T.II/Sriwijaya Letkol Barlian mengambil alih pemerintahan dari tangan gubernur.
                Dalam keadaan demikian pemerintah pusat mengadakan musyawarah nasional pembangunan untuk memecahkan persoalan secara terbuka. Tetapi usaha pemerintah tersebut tidak diterima. Bahkan gerakan kedaerahan yang bersifat separatis terus berlangsung yang akhirnya menjurus menjadi pemberontakan.
                Pemberontakan makin memuncak dengan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Untuk menumpas pemberontakan tersebut pemerintah melancarkan operasi militer yaitu :
-                      Operasi 17 Agustus         : Di Sumatera Barat
-                      Operasi Tegas                    : Di Riau
-                      Operasi Sapta Marga      : Di Sumatera Utara
-                      Operasi Sadar                    : Di Sumatera Selatan
Operasi 17 Agustus dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani dengan sasaran merebut pusat militer di Padang dan pemerintahan di Bukit Tinggi serta kota kota lainnya yang dikuasai pemberontak. Dari Kodam VII/Diponegoro telah ditugaskan RTP III yang dipimpin oleh Letkol Suwito Haryoko. Terdiri dari Yon 438 di bawah pimpinan Mayor S.Suryo Sukamto dan Yon 440 di bawah pimpinan Mayor Suroso.
                Dengan operasi militer tersebut kota-kota di Sumatera Barat dapat dikuasai. Makaselesailah operasi tempur dan dilanjutkan dengan operasi territorial. Dalam operasi tersebut telah dilakukan pergantian pasukan sesuai dengan rotasi penugasan antara lain adalah :
-                      Yon 441                :Mayor Haryoprasetyo
-                      Yon 446                :Mayor Sabdono
-                      Yon 443                :Mayor Ratmojo
Adanya Amnesti dari pemerintah, maka seluruh kekuatan PRRI yang telah menempuh jalan sesat, kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dengan demikian keamanan dapat dipulihkan kembali.

C.Para Pelaku (Antara Lain)

Dari Kodam VII / Diponegoro
1.                   Letkol Suwito Haryoko
2.                   Mayor Suryosukamto
3.                   Mayor Suroso
4.                   Mayor Haryoprasetyo
5.                   Mayor Sabdono
6.                   Mayor Ratmaja
Dari PRRI
1.                   Kolonel Simbolon
2.                   Kolonel Dahlan Jambek
3.                   Letkol Ahmad Husein
4.                   Letkol Barlian

*Sumber : MUSEUM MANDALA BHAKTI

1 komentar:

  1. Sdr. Rossa Arvita. Kami minta anda meralat istilah yang menyebutkan PRRI itu pemberontak. Kami tidak pernah merasa orang tua/paman kami itu pemberontak tapi mereka itu adalah pejuang yang menuntut keadilan bagi bangsa Indonesia yang berada di luar pulau Jawa.

    BalasHapus