Selasa, 19 Juni 2012

menumpas PGRS




A.                  Kejadian Awal
Politik konfrontasi pemerintah orde lama, telah melahirkan berbagai-bagai sukarelawan Dwikora untuk menggayang apa yang dinamakan proyek Nikolim Malaysia. Diantaranya adalah sukarelawan tempur Dwikora. Dimana terdapat 850 orang Cina Serawak yang tergabung dalam Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU). Mereka mempergunakan kesempatan itu untuk memperkuat posisi perjuangan komunis dalam rangka mewujudkan Negara komunis Kalimantan Utara.
Kedudukan PGRS/PARAKU berada di Sempatung kompleks, Songkong kompleks, Melancau kompleks dan di utara Benua Martinus kompleks. Didaerah tersebut mereka berhasil membina wilayah karena sebagian besar penduduk disana adalah para perantau Cina. Mereka yang berhasil dibina, diberi latihan kemiliteran dan dipersenjatai.

B.                  Peristiwa
Berakhirnya politik konfrontasi dalam pemerintahan orde lama para sukarelawan yang tergabung dalam PGRS/PARAKU di instruksikan agar mengumpulkan  dan menyerahkan senjatanya kembali. Tetapi instruksi tersebut tidak digubris bahkan mereka melakukan pemberontakan.
                Operasi bersih yang dilancarkan oleh komando satuan tugas AAU berhasil melucuti sebagian besar dari senjata itu. Tetapi ketika satgas itu pergi dari Kalimantan barat. Mereka mengadakan konsulidasi kembali sehingga kekuatannya semakin besar. Kekuatan itu bertambah lagi setelah meletusnya pemberontakan G 30 S/PKI, dimana sebagian tokoh komunis Kalimantan barat berafiliasi dengan PGRS.
                Dengan ditariknya KO satgas Mandau ke induk pasukannya, operasi dilanjutkan oleh Kodam XII/Tanjungpura. Operasi bersih I masih terbatas pada kekuatan organic kodam XII. Dalam operasi bersih II diperkuat oleh pasukan lari daerah lain. Dari kodam VII/Diponegoro yang telah bertugas menumpas PGRS antara lain Yonif 406 yang dipimpin oleh Mayor Abdullah.

C.                  Para Pelaku (Antara Lain)
Dari Kodam VII/Diponegoro
1.       Mayor Abdullah
2.       Lettu Rony Pesik
3.       Lettu Tony Sutrisno
4.       Lettu Budi Harsono




sumber: MUSEUM MANDALA BHAKTI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar